Pertanian

Pembangunan pertanian pada tahun 2011 mampu mendukung produksi tanaman pangan berupa padi sawah dan ladang sebanyak 232.713  ton untuk pemenuhan kebutuhan beras di Kabupaten Sleman dan kabupaten lain di Provinsi DIY. Sementara produksi beberapa tanaman pangan lainnya mengalami penurunan karena terjadinya fenomena perubahan iklim yang ekstrim (curah hujan sangat tinggi) dan serangan organisme pengganggu tanaman yang semakin meningkat.

Perkembangan beberapa produk tanaman pangan dan hortikultura dapat dilihat pada tabel berikut:

Perkembangan Produksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Tahun 2007-2011 (dalam ton)

No

Produk

2007

2008

2009

2010

2011

1.

Padi sawah

242.684

267.607

268.075

264.317

231.374

2.

Padi ladang

194

1.321

1.329

1.756

1.339

3.

Beras

153.535

169963

170.263

168.158

147.075

4.

Jagung

26.629

30.896

32.712

31.703

38.111

5.

Kedelai

705

1.130

772

698

775

6.

Ubi kayu

19.923

24.449

26.153

20.868

14.741

7.

Pisang

12.049

12.351

12.319

10.020

6.276

8.

Rambutan

15.734

16.119

19.748

16.722

16.432

9.

Cabe

3.741

3.754

3.951

4.123

4.053

10.

Kacang Panjang

1.377

1.938

2.141

2.463

1.876

11.

Salak

57.605

58.217

58.599

56.554

33.340

Komoditas perkebunan yang mengalami peningkatan produksi yang berarti adalah tembakau rakyat sebesar 65,17% dan Tembakau Virginia sebesar 714,28% karena kemarau yang panjang, sehingga tembakau mengalami pertumbuhan yang optimal.

Perkembangan Produksi Perkebunan Tahun 2007-2011 (dalam kwintal)

No.

Produk

2007

2008

2009

2010

2011

1.

Kelapa

83.417,20

83.694,05

83.105,75

81.642,73

79.098,00

2.

Kopi

883,45

861,30

528,65

578,60

123,00

3.

Tembakau rakyat

6.255,45

6.830,30

7.600,00

495,30

818,10

4

Tembakau virginia

1.997,00

2.242,55

1.831,45

1.041,50

8.480,70

5.

Mendong

28.476,00

30.325,00

33.744,00

31.309,00

25.951,00

6.

Tebu

54.224,69

53.907,54

53.911,11

48.956,65

48.171,00

Perkembangan Populasi Ternak Tahun 2007-2011 (ekor)

No.

Ternak

2007

2008

2009

2010

2011

1.

Sapi Potong

47.352

51.514

54.921

47.909

51.706

2.

Sapi Perah

5.589

5.465

5.265

3.134

3.522

3.

Kerbau

3.474

3.387

3.266

3.193

707

4.

Kambing

32.354

35.075

36.152

31.837

35.732

5.

Domba

56.997

68.955

71.623

64.853

70.698

6.

Ayam Buras

1.571.706

1.599.729

1.615.285

1.477.278

1.538.058

7.

Ayam Petelur

1.540.932

1.885.432

1.993.395

1.433.704

1.668.820

8.

Ayam Pedaging

2.681.775

2.795.899

2.977.735

2.522.194

2.713.870

9.

Itik

195.848

199.645

212.967

200.883

205.815

10.

Burung Puyuh

901.425

948.591

949.478

879.397

916.305

Perkembangan Produksi Hasil Ternak (dalam ton)

No.

Ternak

2007

2008

2009

2010

2011

1.

Telur

17.523,72

19.449,16

19.550,57

18.133,88

17.647,00

2.

Susu

6.687,88

5.712,16

5.527,41

4.597,59

2.756,63

3.

Daging

20.515,81

21.558,31

21.776,59

21.348,85

19.749,19

Dari data diatas, dapat dilihat bahwa jumlah populasi ternak secara umum mengalami peningkatan, sedangkan produksi telur, susu dan daging pada tahun 2011 mengalami sedikit penurunan karena belum pulihnya populasi ternak di wilayah sentra produksi susu dan telur (Cangkringan dan Pakem) akibat erupsi Merapi pada tahun 2010.

Perikanan

Peningkatan jumlah produksi ikan konsumsi pada tahun 2011 sebesar 26,0%, produksi ikan hias meningkat sebesar 4,05%, dan produksi benih ikan meningkat sebesar 6,91%. Peningkatan produktifitas perikanan tersebut dikarenakan adanya peningkatan produktivitas kolam, jumlah kelompok pembudidaya meningkat 7,24% menjadi 415 kelompok, peningkatan produktivitas alat tangkap perairan umum, serta meningkatnya pengetahuan dan ketrampilan pembudidayaan ikan.

Perkembangan Produksi Ikan Tahun 2007– 2011

No.

Produksi Ikan

2007

2008

2009

2010

2011

1.

Ikan Konsumsi (ton)

8.148,85

10.297,78

12.425,90

14.574,68

18.364,10

2.

Ikan Hias (ekor)

7.818.000

9.278.860

9500000

11.445.500

11.909.300

3.

Benih Ikan (ekor)

532.156.500

704.545.000

789367500

785.857.500

840.182.800

Tingkat konsumsi ikan pada tahun 2011 meningkat 3,93% menjadi 27,78 kg/kapita/tahun dari 26,73 kg/kapita/tahun pada tahun 2010. Tingkat konsumsi tahun 2011 ini lebih tinggi bila dibandingkan dengan tingkat konsumsi Provinsi DIY sebesar 12,80 kg/kapita/tahun.

Kehutanan

Erupsi Merapi yang terjadi pada akhir tahun 2010 berdampak pada masih luasnya lahan kritis yang ada seluas 7.265,5 ha. Pada tahun 2011 kondisi tersebut turun 4,13% menjadi seluas 6.965,51 ha, disamping itu luas hutan rakyat dari 3.327,4 ha meningkat 19,53% menjadi 3.977,40 ha pada tahun 2011.

Perkembangan Data Kehutanan

No

URAIAN DATA

TAHUN ANGGARAN

2007

2008

2009

2010

2011

1

Luas lahan  (Ha)

5.575,75

5.810,14

5.899,15

5.057,62

5.707,61

a

TNGM :

1.729,91

1.729,91

1.729,91

1.728,38

1.728,38

– Hutan lindung

1.446,65

1.446,65

1.446,65

1.446,65

1.446,65

– Cagar Alam

164,6425

164,6425

164,6425

164,6425

164,6425

– Taman Wisata

118,6135

118,6135

118,6135

118,6135

118,6135

b

Hutan Rakyat

3.844,00

4.078,40

4.167,41

3.327,41

3.977,40

c

Hutan Kota

1,83

1,83

1,83

1,83

1,83

2

Luas lahan kritis (Ha)

6.437,00

6.237,00

6.237,00

7.265,51

6.965,51

a

Potensi kritis

2.668,00

2.581,91

2.581,91

2.721,91

2.721,91

b

Agak kritis

2.929,00

2.984,25

3.017,34

3.017,34

3.017,34

c

Kritis

556,00

442,09

415,00

1.175,51

875,75

d

Sangat kritis

284,00

231,75

225,75

350,75

350,75

3

Produksi Madu Lebah (kg)

1.730

2.775

4.030

3.510

3.250